Minggu, 12 Oktober 2008

Rokok dan Sekulerisme


Mungkin agak janggal menghubung-hubungkan rokok dengan sekulerisme. Tapi namanya juga blog opini ya boleh-boleh saja. Definisi sekulerisme beragam. Ada yang bilang sekulerisme itu adalah pemisahan antara pemerintahan negara dan agama. Ada yang bilang sekulerisme itu adalah orang yang tidak konsisten menjalankan perintah agamanya dalam praktek kehidupan sehari-hari, artinya hanya menjalankan ritualnya saja seperti solat, puasa, haji, dan sebagainya. Kalau menurut saya, sederhananya sekuler itu adalah tidak menjalankan dan sekaligus tidak menghormati ajaran agamanya sendiri.

Saya memperhatikan dari tahun ke tahun semakin banyak umat muslim di Indonesia – paling tidak menurut apa yang saya lihat di seputar Jakarta dan beberapa kota lain yang kebetulan saya mengadakan perjalanan saat bulan ramadan – yang tanpa sungkan-sungkan mempertontonkan dirinya tidak berpuasa. Sebut saja saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai supir angkot, pengojek sepeda motor, juru parkir, dan petugas keamanan. Supir angkot sambil menyetir angkotnya dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang rokok dengan asap terkepul. Pengojek motor sambil menunggu penumpang mengepulkan asap rokok. Juru parkir sambil mengarahkan mobil parkir tangannya memegang rokok. Petugas keamanan sambil istirahat di pos jaga mengepulkan asap rokok. Bagaimana kira-kira saya bisa tahu bahwa mereka muslim? Ya dari nama di baju seragam (untuk juru parkir dan petugas keamanan) dan ornamen yang terdapat di kendaraan mereka (untuk supir angkot dan pengojek sepeda motor).

Saat saya iseng menanyai dua atau tiga orang di antara mereka mengapa tidak puasa, mereka dengan ringan menjawab, "Tuhan Maha Tahu jika saya tidak kuat berpuasa." Lalu ada juga yang menjawab, "Kalau menahan lapar saya kuat, tetapi kalau tanpa rokok saya tidak kuat." Berarti daya rusak rokok ini kalau dipikir-pikir memang luar biasa. Selain dapat memiskin orang – sehingga BLT sering dipelesetkan menjadi 'bantuan langsung tembakau', juga dapat menjauhkan orang dari ajaran agamanya – alias sekuler. Sayangnya ini justru banyak terjadi di kalangan lapisan bawah yang menjadi bagian mayoritas dari masyarakat Indonesia.

Di jaman yang katanya reformasi ini orang memang makin cenderung sekuler. Dan sekulerisme itu antara lain disebabkan karena sebatang rokok.

0 komentar:

Posting Komentar