Jumat, 17 Oktober 2008

Globalisasi dan Sekulerisme


Sebagaimana pernah saya kemukakan dalam postingan di bulan Juni 2008 dengan tajuk “Globalisasi: Perangkap Ekonomi Negara Maju (?)” bahwa banyak kalangan berpendapat globalisasi itu pada dasarnya tidak lebih dari sekedar ekspansi kekayaan negara maju atau para kapitalis – bukan niatan tulus untuk berbagi kemakmuran dengan negara berkembang. Di sisi lain, jika tidak memiliki ketahanan ekonomi, maka negara berkembang akan dieksploitir oleh negara maju, baik secara langsung lewat lembaga-lembaga keuangannya ataupun lewat MNC (Multi National Companies). Hal inilah yang sejak tahun 1950-an diwaspadai Bung Karno sebagai model penjajahan baru, yang diistilahkan oleh beliau sebagai NEKOLIM (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Sebuah negara maju menguasai negara berkembang bukan lagi dalam bentuk penjajahan wilayah (koloni), tetapi dalam bentuk penjajahan ekonomi dan ideologi – terutama faham sekuler.

Tetapi kan MNC itu banyak yang melakukan investasi langsung (direct investment) sehingga banyak meyerap tenaga kerja lokal? Ya itu hanya karena pertimbangan ekonomi semata. Jika tidak terikat oleh peraturan setempat, jangan-jangan si MNC ini akan memboyong semua sumber daya yang ada dari negeri asalnya ke tempat dia melakukan investasi – tidak terkecuali tenaga kerja.

Meskipun ekspansi kapital menjalar ke seluruh penjuru dunia, namun tetaplah pusat-pusat keuangan global itu berada di tiga tempat: Amerika Utara, Eropa Barat, dan Asia Timur. Ironisnya ketiga tempat ini - terutama Eropa Barat dan Amerika Utara - dalam banyak hal menimbulkan (atau dibuat “seolah-olah” menimbulkan) friksi terhadap tatanan budaya dan nilai-nilai Islam. Bahkan Samuel Huttington dalam bukunya yang berjudul The Clash of Civilization membuat hipotesis akan adanya benturan peradaban antara Barat dan Islam.

Perjalanan sejarah sekulerisme di negara-negara Barat memang cukup panjang. Bentuk sekulerisme yang paling awal adalah adanya pemisahan antara pemerintahan negara dan agama. Bandingkan misalnya dengan tatanan pemerintahan di jaman Khulafaur Rasyidin dimana seorang khalifah adalah pemimpin negara sekaligus pemimpin agama. Sebelum jaman renaissance, budaya masyarakat Barat sangat kental dengan nilai-nilai moral Christendom. Setelah munculnya para ilmuwan yang membawa faham materialis – sebut saja Isaac Newton dan Charles Darwin – yang berpuncak pada timbulnya fenomena yang disebut dengan revolusi industri di kwartal terakhir abad ke-18 ketika James Watt dari Inggeris untuk pertama kalinya berhasil membuat mesin uap komersial, maka mulailah faham sekuler berbasiskan materialisme itu menjalar ke negara-negara Barat lainnya lalu mereka usung ke wilayah jajahannya di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.

Mengapa negara maju dipandang cukup getol untuk menarik orang menjadi sekuler? Jawabannya sederhana saja. Jika pola pikir orang lain dapat mereka tarik mengikuti pola pikir mereka, maka mereka akan lebih gampang mengeksploitasi bangsa yang menjadi sasaran mereka; dan bahkan dapat mereka setir untuk membela kepentingan mereka. Merekalah yang mendesakkan faham-faham sekulerisme melalui isu-isu liberalisme, HAM, kesetaraan gender, pluralisme, homoseksualitas, biseksualitas, dan perkawinan sesama jenis. Di sisi lain, karena tidak menyadari atau tidak mau mempelajari bahwa isu-isu yang dihembuskan oleh globalisasi tersebut sebetulnya bukan masalah baru (sudah ada aturannya dalam agama), banyak yang merasa terperangah sekaligus terpengaruh dengan faham sekulerisme ala Barat tersebut. Padahal faham tersebut tujuannya perlahan tapi pasti adalah untuk menarik masyarakat bangsa ini menuju faham sekuler pula.

Pertanyaannya, apakah sutau bangsa kalau mau maju itu harus menjadi bangsa sekuler? Kita lihat Turki sejak awal abad ke-20 dibawah komando Kemal Pasha (yang dijuluki Kemal Attaturk – bapak bangsa Turki) begitu ketatnya menjalankan praktek sekuler dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, namun hingga kini tidak juga membuat mereka satu level dengan negara Barat. Permasalan yang dialami oleh Turki masih kurang lebih sama dengan negara berkembang lainnya, yaitu masalah kesejahteraan rakyat. Sebenarnya budaya universal yang memacu bangsa-bangsa untuk maju adalah tertanamnya budaya iptek dalam tatanan budaya bangsa. Kalau saya sarikan dari Nurmahmudi Ismail (2004) dan Alex Inkeles (1983), berikut adalah nilai-nilai budaya global dan modern yang mesti kita anut jika kita ingin menjadi bangsa yang maju:

· Orientasi pada iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
· Efektif dan efisien.
· Inovatif.
· Produktif.
· Mobilitas tinggi.
· Tepat waktu dan disiplin.
· Membuka diri pada hal-hal baru.
· Melakukan segala sesuatu sesuai rencana.


Apa yang dikatakan oleh Nurmahmudi dan Alex Inkeles di atas sebetulnya merupakan nilai universal yang tidak ada masalah jika dianut sebuah bangsa, bahkan tidak ada pertentangan dengan nilai agama. Kalau menurut tradisi Islam, apa yang dikatakan oleh Nurmahmudi dan Inkeles di atas tidak lebih merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran. Ayat pertama yang diwahyukan dimulai dengan kata bahasa Arab iqra’ yang artinya ‘bacalah’. Ini adalah perintah universal bagi manusia agar belajar dan belajar supaya menjadi orang yang cerdas sehingga menguasai iptek. Ayat pertama dalam Surat 103 berbunyi wal-‘ashr yang artinya ‘demi waktu’. Ini adalah perintah universal agar manusia memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin, jangan mengisi waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.

Bagaimana agar bangsa ini mampu menghadapi tantangan di era globalisasi dan agar tidak ‘terjajah’ oleh kekuatan negara maju? Tanamkan dan praktekkan nilai-nilai budaya global seperti disebut di atas dalam tatanan budaya bangsa ini. Bila tidak, maka bangsa ini hanya akan dipecundangi oleh negara-negara maju. Para penganut agama agar menggali nilai-nilai universal yang dapat menstimulasinya untuk maju dan bersaing di pasar global karena - sekali lagi - esensi nilai budaya global yang memacu manusia untuk maju sama sekali tidak bertentangan dengan agama, dan karenanya bangsa ini tidak mesti menjadi sekuler. Menurut pendapat saya, selain sebagai pedoman moral, agama justru memerintahkan manusia untuk membangun peradaban, bukan bermalas-malasan.

0 komentar:

Posting Komentar